Menurut saya, mengatakan MAAF, bukan selalu kita benar-benar punya
salah. Malah justru, ketika kita terlebih dulu meminta maaf dengan
seseorang meski sebenerna kita tidak bersalah, maka seseorang itu bisa
lebih lunak untuk mengakui kesalahannya dan membuat hubungan antara kita
dan seseorang bisa lebih baik...
Maaf adalah salah satu parameter kepekaan hati yang takut melukai perasaan orang...
Maaf adalah permintaan hati yang tahu bahwa nafas bisa saja terhenti
Maaf adalah uluran hati yang tak harus kita dapatkan ketika hari raya tiba
Maaf adalah jabatan hati yang ketika lebaran tiba, belum tentu bisa kita suguhkan pada orang yang pernah kita sakiti
Maaf adalah kata yang sulit dikatakan namun bisa menghapus dosa bagi mereka yang mendapatkan maaf itu sendiri
Maaf adalah kata yang tak mutlak menunjukkan bahwa kita ceroboh
Maaf adalah kata yang bukan menunjukkan kita kalah
Maaf adalah kata yang tak selau menunjukkan bahwa kita jarang benar
Pandanglah aku Sesederhana mungkin LetaXkan aku di ruang hatimu yang beragam, walau jarang kau ingat tapi tak pernah kau lupakan !
Sabtu, 05 Januari 2013
Jangan Sombong Anak Muda
Ketika kita bisa dengan mudahnya menghambur-hamburkan uang untuk hal
yang kurang penting, marilah kita mengingat mereka yang rela terjemur
sinar matahari demi sesuap nasi.
Ketika kita ingin menawar barang pedagang terlalu rendah ingatlah bahwa mereka mengambil keuntungan dari itu dan keuntungan itu digunakan untuk menyambung hidup. Siapa tahu ada kelurganya ada yang terbaring dirumah sakit
Ketika kita merasa kenyang ingatlah dengan orang-orang diperempatan jalan yang beberapa hari tidak makan
Ketika kita sampai tujuan dengan selamat setelah melakukan perjalanan, ingatlah dengan mereka yang mengalami kecelakaan atau kecopetan
Ketika kita tidak menghabiskan makanan kita, ingatlah dengan orang-orang yang mencari sisa makanan di tong-tong sampah
Ketika kita dengan mudah mengeluarkan 15.000 untuk tiket nonton, semoga kita juga mudah mengeluarkan dengan nominal yang sama atau bahkan mungkin lebih untuk bersedekah
Ketika kita melihat batu, paku atau kulit pisang ketika kita berjalan, ingatlah bahwa hal itu bisa membuat saudara kita terjatuh bahkan mungkin meninggal
Ketika kita malas belajar dengan buku-buku yang sudah kita miliki, ingatlah dengan mereka yang ingin belajar namun tak memiliki fasilitas
Ketika kita marah dengan orang tua, ingatlah dengan mereka yang tak lagi memilikinya
Ketika kita marah dengan kekasih, ingatlah dengan janji yang pernah diikrarkan dan perjuangan-perjuangan diantara kita dengannya
Ketika kita ingin selingkuh dengan orang lain, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang ingin disakiti termasuk kita dan kekasih kita
Ketika kita tidak ingin tinggalkan, jangan meninggalkan kecuali bila itu untuk kebaikan orang yang kita tinggalkan. Kadang, justru karena kita mencintainya kita pergi dari kehidupannya
Ketika kita tidak ingin dicaci oleh orang yang tidak menyakiti kita, janganlah ikut-ikutan mencaci atas nama kemanusiaan. Tegur kesalahan seseorang itu dengan cara yang baik jauh lebih bijak daripada main hakim sendiri. Ingatlah bahwa yang kita lakukan pasti dipertanggungjawabkan kelak
Ketika kita memperlakukan orang lain agar mereka tak berharap, maka ketika orang lain memperlakukan hal yang sama pada kita, kita semakin tahu, sikap terbaik seperti apa untuk selanjutnya
Ketika kita melihat anak kecil mengamen dibus, bayangkan bila mereka adalah anak kita atau sepupu kita. Lantas apa yang akan kita lakukan?
Ketika kita berpikir untuk menyakiti diri sendiri dengan pisau atau mau bunuh diri karena ditinggal pacar, ingatlah dengan mereka yang berjuang melawan penyakitnya
Ketika kita malas bekerja, maka ingatlah dengan mereka yang tubuhnya kurang sempurna namun tetap berjuang mencari nafkah
Ketika kita mengeluh dengan pekerjaan, maka ingatlah dengan mereka yang berjuang untuk mendapatkannya
Ketika kita mengeluh menginginkan sesuatu yang belum dimiliki orang lain, itu sama saja seperti kita mengeluh menginginkan mobil mewah pada orang yang belum memiliki rumah untuk tempat tinggal
Ketika kita ingin menawar barang pedagang terlalu rendah ingatlah bahwa mereka mengambil keuntungan dari itu dan keuntungan itu digunakan untuk menyambung hidup. Siapa tahu ada kelurganya ada yang terbaring dirumah sakit
Ketika kita merasa kenyang ingatlah dengan orang-orang diperempatan jalan yang beberapa hari tidak makan
Ketika kita sampai tujuan dengan selamat setelah melakukan perjalanan, ingatlah dengan mereka yang mengalami kecelakaan atau kecopetan
Ketika kita tidak menghabiskan makanan kita, ingatlah dengan orang-orang yang mencari sisa makanan di tong-tong sampah
Ketika kita dengan mudah mengeluarkan 15.000 untuk tiket nonton, semoga kita juga mudah mengeluarkan dengan nominal yang sama atau bahkan mungkin lebih untuk bersedekah
Ketika kita melihat batu, paku atau kulit pisang ketika kita berjalan, ingatlah bahwa hal itu bisa membuat saudara kita terjatuh bahkan mungkin meninggal
Ketika kita malas belajar dengan buku-buku yang sudah kita miliki, ingatlah dengan mereka yang ingin belajar namun tak memiliki fasilitas
Ketika kita marah dengan orang tua, ingatlah dengan mereka yang tak lagi memilikinya
Ketika kita marah dengan kekasih, ingatlah dengan janji yang pernah diikrarkan dan perjuangan-perjuangan diantara kita dengannya
Ketika kita ingin selingkuh dengan orang lain, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang ingin disakiti termasuk kita dan kekasih kita
Ketika kita tidak ingin tinggalkan, jangan meninggalkan kecuali bila itu untuk kebaikan orang yang kita tinggalkan. Kadang, justru karena kita mencintainya kita pergi dari kehidupannya
Ketika kita tidak ingin dicaci oleh orang yang tidak menyakiti kita, janganlah ikut-ikutan mencaci atas nama kemanusiaan. Tegur kesalahan seseorang itu dengan cara yang baik jauh lebih bijak daripada main hakim sendiri. Ingatlah bahwa yang kita lakukan pasti dipertanggungjawabkan kelak
Ketika kita memperlakukan orang lain agar mereka tak berharap, maka ketika orang lain memperlakukan hal yang sama pada kita, kita semakin tahu, sikap terbaik seperti apa untuk selanjutnya
Ketika kita melihat anak kecil mengamen dibus, bayangkan bila mereka adalah anak kita atau sepupu kita. Lantas apa yang akan kita lakukan?
Ketika kita berpikir untuk menyakiti diri sendiri dengan pisau atau mau bunuh diri karena ditinggal pacar, ingatlah dengan mereka yang berjuang melawan penyakitnya
Ketika kita malas bekerja, maka ingatlah dengan mereka yang tubuhnya kurang sempurna namun tetap berjuang mencari nafkah
Ketika kita mengeluh dengan pekerjaan, maka ingatlah dengan mereka yang berjuang untuk mendapatkannya
Ketika kita mengeluh menginginkan sesuatu yang belum dimiliki orang lain, itu sama saja seperti kita mengeluh menginginkan mobil mewah pada orang yang belum memiliki rumah untuk tempat tinggal
Tersenyumlah Kasih
Kata siapa aku memenjarakanmu disepanjang Hidupmu
Sementara nafasku masih disini
ia terpaut wangi yang bersembunyi dari bilikmu
tatapku masih berkelana
ia rindu untuk jiwa yang merajut sebuah kisah
pendengaranku masih berikan sinyal
ia mendengar bibirmu yang terdiam
Siapa aku hingga letakkan sebukit luka
sungguh sakit enggan kuberi
siapa aku ingin rebut perasaanmu selamanya
pahamilah... aku mengajarimu hati pujangga
Cinta tumbuh didinding hati
cerahkan... ceriakan... ceritakan... dan "Tersenyumlah..
ketika ia rela luluh lantakkan jiwa
bukan pertanda aku tak memiliki hati
ketika ia berteriak ditengah dunia
bukan pertanda aku tak melihat
karena cinta itu rasaku padamu...
Sementara nafasku masih disini
ia terpaut wangi yang bersembunyi dari bilikmu
tatapku masih berkelana
ia rindu untuk jiwa yang merajut sebuah kisah
pendengaranku masih berikan sinyal
ia mendengar bibirmu yang terdiam
Siapa aku hingga letakkan sebukit luka
sungguh sakit enggan kuberi
siapa aku ingin rebut perasaanmu selamanya
pahamilah... aku mengajarimu hati pujangga
Cinta tumbuh didinding hati
cerahkan... ceriakan... ceritakan... dan "Tersenyumlah..
ketika ia rela luluh lantakkan jiwa
bukan pertanda aku tak memiliki hati
ketika ia berteriak ditengah dunia
bukan pertanda aku tak melihat
karena cinta itu rasaku padamu...
Putus Cinta & Putus Harapan
Ketika Putri mendadak memutuskan cintanya, Irfan berubah jadi pemurung.
Dan ketika gadis pujaannya itu menikah diam-diam di Surabaya, Irfan betul-betul frustrasi. Dia tak mau makan-minum, sehingga akhirnya terkena tifus. Betapa ironis, ketika mantan kekasihnya tengah menikmati bulan madu di Bali, dia justru terbaring di rumah sakit. Lalu, apakah yang dapat dilakukan seorang ayah untuk menghibur anak lelakinya yang patah hati? Untuk membangkitkan kembali semangat juangnya yang hampir mati? Irfan adalah anak yang cemerlang. Sejak kecil dia selalu jadi bintang
kelas. Namun, anak itu pendiam dan perasa. ''Kamu betul-betul menuruni darah Ayah. Selalu serius, mendalam, dan penuh ketulusan kalau mencintai
perempuan. Sehingga, kalau putus cinta betul-betul terpuruk. Padahal, seperti kata peribahasa, dunia ini tidak sedaun kelor. Di dunia ini begitu banyak wanita, Nak,'' ujarku saat berbicara dari hati ke hati sepulangnya ia dari rumah sakit. ''Tapi tidak ada yang secantik dan sebaik Putri, Yah. Dia yang dulunya tak pakai kerudung, kini mulai belajar pakai kerudung. Tapi kenapa ketika keislamannya semakin
sempurna, kok dia tega meninggalkan saya dan menikah dengan manajer
perusahaan elektronik itu?''
''Sudahlah, Nak. Sesuatu yang lepas dari tangan kita memang selalu kelihatan indah. Begitu pula kalau kita kehilangan perempuan yang kita cintai. Mata kita tertutup bahwa di sekeliling kita masih banyak perempuan lain yang mungkin lebih baik dari dia.''
''Aku baru sekali ini jatuh cinta, Yah. Selama SMU dan kuliah, waktuku
lebih banyak aku habiskan untuk belajar, dan organisasi ilmiah di kampus.''
''Ayah paham, Nak. Ayah mau buka rahasia. Sewaktu SMU dulu Ayah mengalami nasib yang mirip kamu. Cinta tak kesampaian, padahal Ayah dan Rini, nama perempuan itu, sama-sama saling mencintai. Bertahun-tahun Ayah nyaris frustrasi dan tak pernah mampu menghilangkan bayang wajahnya. Sampai kemudian, lima tahun setelah itu, Tuhan
mempertemukan Ayah dengan ibumu. Dia wanita tercantik di Cianjur ketika
itu. Baru lulus SMU. Banyak sekali pemuda yang mengincar ibumu. Entahlah, kenapa dia mau menikah dengan Ayah yang ketika itu masih berstatus mahasiswa dan belum punya pekerjaan, kecuali menjadi penulis free lance di koran. Kami menikah hanya dua minggu sejak pertama kali bertemu.'' Irfan termenung. Mungkin ia merenungkan kalimat demi kalimat yang tadi aku ucapkan.
''Nak, laki-laki itu ibarat buah kelapa. Makin tua, makin bersantan. Biarpun jelek, botak dan gendut, kalau punya kedudukan, berharta, dan terkenal, maka gadis-gadis muda antri untuk mendapatkannya. Untuk sekadar jadi teman kencan maupun istri sungguhan.''
''Benarkah?''
''Ya. Dengan modal hanya sebagai wartawan senior dan novelis top saja,
Ayahmu ini seringkali digilai oleh perempuan-perempuan muda. Mereka berusaha mencuri perhatian Ayah dengan berbagai cara. Kalau Ayah tidak kuat iman, Ayah mungkin sering kencan dengan banyak perempuan. Kalau Ayah kurang sabar, Ayah mungkin beristri dua, tiga, atau bahkan empat.''
''Apa yang membuat Ayah bertahan?''
''Ibumu. Dia perempuan yang hebat. Kesabaran, ketulusan, kehangatan dan kasih
sayangnya luar biasa. Hal itu telah ditunjukkannya saat Ayah masih belum
punya apa-apa, belum diperhitungkan orang, bahkan dilirik sebelah mata
pun tidak. Kami menikah dalam keadaan miskin. Bahkan cincin kawin untuk
ibumu baru Ayah belikan lima tahun setelah pernikahan. Tahun-tahun pertama pernikahan, kami sering makan hanya nasi dan garam saja. Namun tak pernah sekalipun Ayah mendengar ibumu mengeluh atau menunjukkan air muka masam. Sebaliknya, Beliau selalu berusaha membesarkan hati Ayah. Bahwa Ayah punya potensi. Bahwa Ayah suatu hari nanti akan jadi orang hebat di bidang sastra maupun jurnalistik.
Dua puluh delapan tahun perkawinan dengan ibumu sungguh merupakan perjalanan hidup yang amat berarti bagi Ayah. Itulah yang membuat Ayah tak pernah mau berpaling kepada perempuan lain. Rasanya sungguh tak adil, setelah menjadi orang yang terkenal dan punya uang, Ayah lalu mencari perempuan lain untuk membagi cinta ataupun sekadar bersenang-senang.''
''Ayah beruntung mendapatkan perempuan sebaik ibu. Tapi aku? Satu-satunya perempuan yang aku cintai kini telah pergi.''
''Jangan menyerah dulu, Nak. Cuti doktermu 'kan masih tiga hari lagi. Bagaimana kalau besok Ayah ajak kau jalan-jalan keliling Jakarta? Kita santai dan cari makan yang enak. Siapa tahu kamu bisa melupakan Putri-mu dan mendapatkan pengganti yang lebih baik.'' Irfan tidak langsung menjawab. ''Ayolah, Nak. Ayah yang akan jadi sopirmu. Kau tinggal duduk di jok depan. Oke?''
Lama baru Irfan mengangguk. ''Baiklah, Ibu ikut?''
''Tidak. Ini urusan laki-laki, Nak,'' sahutku seraya tertawa.
Hari pertama aku mengajak Irfan berkeliling Mal Pondok Indah. Mal yang
terletak di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan itu selalu ramai dikunjungi orang-orang berduit. Hanya dalam hitungan jam kita bisa menyaksikan puluhan bahkan ratusan perempuan muda, cantik dan seksi, keluar masuk mal. Umumnya mereka mengenakan pakaian yang menonjolkan lekuk-lekuk fisiknya, seperti dada, udel, pantat, paha, ketiak dan punggungnya.
Seusai Maghrib aku mengajak Irfan nonton film di Kartika Chandra 21 yang
terletak kawasan Segi Tiga Emas Jakarta, tepatnya Jalan Gatot Subroto. Di sini banyak sekali pasangan yang datang menonton. Umumnya perempuan-perempuannya mengenakan gaun malam yang seksi dan terbuka. Banyak juga yang memakai rok mini ataupun celana blue jean ketat di bawah pinggang sehingga sering kali memperlihatkan celana dalam pemakainya.
Hari kedua aku mengajak Irfan pergi ke kantor sebuah bank syariah.
''Ayah mau setor tabungan dulu sekaligus mau buka rekening khusus zakat.
Mau ikut masuk?'' Irfan mulanya enggan. ''Ayolah.'' Akhirnya ia mau juga
ikut. Kami menemui salah seorang customer service officer. Laili namanya. ''Assalaamu'alaikum, Pak Irwan. Ada yang bisa saya bantu?'' suaranya bening dan terkesan manja, namun tidak dibuat-buat. Balutan jilbab coklat itu tak mampu menyembunyikan posturnya yang semampai dan wajah selembut kabut. ''Wa'alaikumsalaam, Mbak Laili. Saya ingin membuka rekening khusus untuk zakat. Oh, ya, kenalkan ini anak sulung saya. Irfan. Irfan, ini Mbak Laili.'' ''Assalaamu'alaikum, Mas Irfan.''
''Wa'alaikumsalaam, Mbak Laili.'' ''Irfan kerja di gedung ini juga, Mbak Laili. Lantai 12.'' ''Oh, ya?'' Laili agak terkejut. ''Kalian pasti enggak pernah bertemu 'kan? Inilah penyakit zaman modern, orang-orang berkantor di satu gedung tapi bisa bertahun-tahun tak pernah berjumpa,'' kataku sambil tertawa.
Bibir tipis Laili mengukir segurat senyum. ''Soalnya Mas Irfan enggak pernah buka tabungan di bank syariah. Duitnya disimpan di bank konvensional semua ya?'' Laili punya selera humor yang bagus. Kulihat Irfan tersenyum kecil. ''Insya Allah saya akan buka rekening di bank syariah, Mbak.''
Keluar dari bank syariah itu, aku mengajak Irfan menghadiri pameran buku Islam di Istora Senayan Jakarta. Pameran yang menampilkan puluhan penerbit Islam itu setiap hari dihadiri oleh puluhan ribu orang. Berbeda dengan pemandangan di Mal Pondok Indah dan KC-21, di sini kebanyakan perempuan muda yang datang mengenakan jilbab. Wajah mereka kelihatan bersih dan matanya lebih suka menunduk ketimbang jelalatan mencari perhatian lelaki.
Seusai menonton pameran buku, aku mengajak Irfan mampir di Hotel Gran Melia, yang terletak di Jl HR Rasuna Said. Kami memesan es lemon tea dan pisang goreng Keju. ''Oke. Mari kita bahas perjalanan dua hari kita. Kamu masih ingat perempuan-perempuan muda di Mal Pondok Indah dan KC-21 kemarin?'' Dia cuma mengangguk. ''Wanita-wanita seperti itu menyenangkan untuk dilihat dan dibawa ke pesta-pesta, tapi belum tentu membuatmu bahagia. Sebaliknya perempuan-perempuan muda berjilbab yang kita saksikan di pameran buku Islam dan bank syariah tadi, mereka lebih mungkin membuatmu menjadi seorang lelaki yang dihargai dan meraih
kebahagiaan sejati. Ayah yakin, di antara mereka itu pasti ada perempuan
impian.''
''Seperti apakah perempuan impian itu, Yah?'' Aku menyeruput es lemon
tea yang tinggal separoh. Kemudian mencomot sepotong pisang goreng keju.
Irfan menunggu dengan tidak sabar. ''Seperti apa, Yah?''
''Kalau kamu bertemu dengan seorang perempuan yang berpadu pada dirinya
kehangatan seorang Siti Khadijah, serta kemanjaan dan kecerdasan seorang Siti Aisyah dua di antara istri-istri Rasulullah itulah perempuan impian.''
''Seandainya aku menjumpai perempuan yang seperti itu, apa yang harus aku lakukan?'' ''Jangan tunggu esok atau lusa. Telepon Ayah saat itu juga. Ayah akan segera melamarkannya untukmu, dan kau harus menikah dengannya paling lambat seminggu setelah itu. Jika kamu mendapatkan perempuan seperti itu dalam hidupmu, dunia ini kecil dan nyaris tak berarti. Rasul pernah berkata, bahwa seorang perempuan yang
salehah lebih berharga dari dunia ini beserta isinya.''
Seminggu kemudian. Aku tengah menulis sebuah ficer tentang pengoperasian
bus way di Jakarta ketika HP-ku berdering. Dari Irfan: ''Ayah, aku sudah dapatkan calon istri. Seorang wanita salehah yang bisa membuatku hidup bahagia.'' Suaranya terdengar bersemangat. ''Oh, ya, siapa namanya?'' ''Nantilah Ayah akan aku kenalkan.'' Berselang lima menit kemudian, Yanti, staf humas bank syariah menelepon. ''Assalaamu'alaikum, Pak Irwan. Tadi Irfan buka rekening di bank syariah. Dia mengobrol cukup lama dengan salah seorang customer service officer kami. Bapak pasti tahu yang saya maksudkan.'' Aku menutup Nokia 9210i itu. Lalu memandang
ke luar jendela kantor. ''Alhamdulillah. Akhirnya kau temukan perempuan
impianmu, Nak.''
Sumber Uknown
Jika memilih untuk mencintai, bersiaplah untuk kehilangan, bersiaplah untuk tersakiti.
Dan ketika gadis pujaannya itu menikah diam-diam di Surabaya, Irfan betul-betul frustrasi. Dia tak mau makan-minum, sehingga akhirnya terkena tifus. Betapa ironis, ketika mantan kekasihnya tengah menikmati bulan madu di Bali, dia justru terbaring di rumah sakit. Lalu, apakah yang dapat dilakukan seorang ayah untuk menghibur anak lelakinya yang patah hati? Untuk membangkitkan kembali semangat juangnya yang hampir mati? Irfan adalah anak yang cemerlang. Sejak kecil dia selalu jadi bintang
kelas. Namun, anak itu pendiam dan perasa. ''Kamu betul-betul menuruni darah Ayah. Selalu serius, mendalam, dan penuh ketulusan kalau mencintai
perempuan. Sehingga, kalau putus cinta betul-betul terpuruk. Padahal, seperti kata peribahasa, dunia ini tidak sedaun kelor. Di dunia ini begitu banyak wanita, Nak,'' ujarku saat berbicara dari hati ke hati sepulangnya ia dari rumah sakit. ''Tapi tidak ada yang secantik dan sebaik Putri, Yah. Dia yang dulunya tak pakai kerudung, kini mulai belajar pakai kerudung. Tapi kenapa ketika keislamannya semakin
sempurna, kok dia tega meninggalkan saya dan menikah dengan manajer
perusahaan elektronik itu?''
''Sudahlah, Nak. Sesuatu yang lepas dari tangan kita memang selalu kelihatan indah. Begitu pula kalau kita kehilangan perempuan yang kita cintai. Mata kita tertutup bahwa di sekeliling kita masih banyak perempuan lain yang mungkin lebih baik dari dia.''
''Aku baru sekali ini jatuh cinta, Yah. Selama SMU dan kuliah, waktuku
lebih banyak aku habiskan untuk belajar, dan organisasi ilmiah di kampus.''
''Ayah paham, Nak. Ayah mau buka rahasia. Sewaktu SMU dulu Ayah mengalami nasib yang mirip kamu. Cinta tak kesampaian, padahal Ayah dan Rini, nama perempuan itu, sama-sama saling mencintai. Bertahun-tahun Ayah nyaris frustrasi dan tak pernah mampu menghilangkan bayang wajahnya. Sampai kemudian, lima tahun setelah itu, Tuhan
mempertemukan Ayah dengan ibumu. Dia wanita tercantik di Cianjur ketika
itu. Baru lulus SMU. Banyak sekali pemuda yang mengincar ibumu. Entahlah, kenapa dia mau menikah dengan Ayah yang ketika itu masih berstatus mahasiswa dan belum punya pekerjaan, kecuali menjadi penulis free lance di koran. Kami menikah hanya dua minggu sejak pertama kali bertemu.'' Irfan termenung. Mungkin ia merenungkan kalimat demi kalimat yang tadi aku ucapkan.
''Nak, laki-laki itu ibarat buah kelapa. Makin tua, makin bersantan. Biarpun jelek, botak dan gendut, kalau punya kedudukan, berharta, dan terkenal, maka gadis-gadis muda antri untuk mendapatkannya. Untuk sekadar jadi teman kencan maupun istri sungguhan.''
''Benarkah?''
''Ya. Dengan modal hanya sebagai wartawan senior dan novelis top saja,
Ayahmu ini seringkali digilai oleh perempuan-perempuan muda. Mereka berusaha mencuri perhatian Ayah dengan berbagai cara. Kalau Ayah tidak kuat iman, Ayah mungkin sering kencan dengan banyak perempuan. Kalau Ayah kurang sabar, Ayah mungkin beristri dua, tiga, atau bahkan empat.''
''Apa yang membuat Ayah bertahan?''
''Ibumu. Dia perempuan yang hebat. Kesabaran, ketulusan, kehangatan dan kasih
sayangnya luar biasa. Hal itu telah ditunjukkannya saat Ayah masih belum
punya apa-apa, belum diperhitungkan orang, bahkan dilirik sebelah mata
pun tidak. Kami menikah dalam keadaan miskin. Bahkan cincin kawin untuk
ibumu baru Ayah belikan lima tahun setelah pernikahan. Tahun-tahun pertama pernikahan, kami sering makan hanya nasi dan garam saja. Namun tak pernah sekalipun Ayah mendengar ibumu mengeluh atau menunjukkan air muka masam. Sebaliknya, Beliau selalu berusaha membesarkan hati Ayah. Bahwa Ayah punya potensi. Bahwa Ayah suatu hari nanti akan jadi orang hebat di bidang sastra maupun jurnalistik.
Dua puluh delapan tahun perkawinan dengan ibumu sungguh merupakan perjalanan hidup yang amat berarti bagi Ayah. Itulah yang membuat Ayah tak pernah mau berpaling kepada perempuan lain. Rasanya sungguh tak adil, setelah menjadi orang yang terkenal dan punya uang, Ayah lalu mencari perempuan lain untuk membagi cinta ataupun sekadar bersenang-senang.''
''Ayah beruntung mendapatkan perempuan sebaik ibu. Tapi aku? Satu-satunya perempuan yang aku cintai kini telah pergi.''
''Jangan menyerah dulu, Nak. Cuti doktermu 'kan masih tiga hari lagi. Bagaimana kalau besok Ayah ajak kau jalan-jalan keliling Jakarta? Kita santai dan cari makan yang enak. Siapa tahu kamu bisa melupakan Putri-mu dan mendapatkan pengganti yang lebih baik.'' Irfan tidak langsung menjawab. ''Ayolah, Nak. Ayah yang akan jadi sopirmu. Kau tinggal duduk di jok depan. Oke?''
Lama baru Irfan mengangguk. ''Baiklah, Ibu ikut?''
''Tidak. Ini urusan laki-laki, Nak,'' sahutku seraya tertawa.
Hari pertama aku mengajak Irfan berkeliling Mal Pondok Indah. Mal yang
terletak di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan itu selalu ramai dikunjungi orang-orang berduit. Hanya dalam hitungan jam kita bisa menyaksikan puluhan bahkan ratusan perempuan muda, cantik dan seksi, keluar masuk mal. Umumnya mereka mengenakan pakaian yang menonjolkan lekuk-lekuk fisiknya, seperti dada, udel, pantat, paha, ketiak dan punggungnya.
Seusai Maghrib aku mengajak Irfan nonton film di Kartika Chandra 21 yang
terletak kawasan Segi Tiga Emas Jakarta, tepatnya Jalan Gatot Subroto. Di sini banyak sekali pasangan yang datang menonton. Umumnya perempuan-perempuannya mengenakan gaun malam yang seksi dan terbuka. Banyak juga yang memakai rok mini ataupun celana blue jean ketat di bawah pinggang sehingga sering kali memperlihatkan celana dalam pemakainya.
Hari kedua aku mengajak Irfan pergi ke kantor sebuah bank syariah.
''Ayah mau setor tabungan dulu sekaligus mau buka rekening khusus zakat.
Mau ikut masuk?'' Irfan mulanya enggan. ''Ayolah.'' Akhirnya ia mau juga
ikut. Kami menemui salah seorang customer service officer. Laili namanya. ''Assalaamu'alaikum, Pak Irwan. Ada yang bisa saya bantu?'' suaranya bening dan terkesan manja, namun tidak dibuat-buat. Balutan jilbab coklat itu tak mampu menyembunyikan posturnya yang semampai dan wajah selembut kabut. ''Wa'alaikumsalaam, Mbak Laili. Saya ingin membuka rekening khusus untuk zakat. Oh, ya, kenalkan ini anak sulung saya. Irfan. Irfan, ini Mbak Laili.'' ''Assalaamu'alaikum, Mas Irfan.''
''Wa'alaikumsalaam, Mbak Laili.'' ''Irfan kerja di gedung ini juga, Mbak Laili. Lantai 12.'' ''Oh, ya?'' Laili agak terkejut. ''Kalian pasti enggak pernah bertemu 'kan? Inilah penyakit zaman modern, orang-orang berkantor di satu gedung tapi bisa bertahun-tahun tak pernah berjumpa,'' kataku sambil tertawa.
Bibir tipis Laili mengukir segurat senyum. ''Soalnya Mas Irfan enggak pernah buka tabungan di bank syariah. Duitnya disimpan di bank konvensional semua ya?'' Laili punya selera humor yang bagus. Kulihat Irfan tersenyum kecil. ''Insya Allah saya akan buka rekening di bank syariah, Mbak.''
Keluar dari bank syariah itu, aku mengajak Irfan menghadiri pameran buku Islam di Istora Senayan Jakarta. Pameran yang menampilkan puluhan penerbit Islam itu setiap hari dihadiri oleh puluhan ribu orang. Berbeda dengan pemandangan di Mal Pondok Indah dan KC-21, di sini kebanyakan perempuan muda yang datang mengenakan jilbab. Wajah mereka kelihatan bersih dan matanya lebih suka menunduk ketimbang jelalatan mencari perhatian lelaki.
Seusai menonton pameran buku, aku mengajak Irfan mampir di Hotel Gran Melia, yang terletak di Jl HR Rasuna Said. Kami memesan es lemon tea dan pisang goreng Keju. ''Oke. Mari kita bahas perjalanan dua hari kita. Kamu masih ingat perempuan-perempuan muda di Mal Pondok Indah dan KC-21 kemarin?'' Dia cuma mengangguk. ''Wanita-wanita seperti itu menyenangkan untuk dilihat dan dibawa ke pesta-pesta, tapi belum tentu membuatmu bahagia. Sebaliknya perempuan-perempuan muda berjilbab yang kita saksikan di pameran buku Islam dan bank syariah tadi, mereka lebih mungkin membuatmu menjadi seorang lelaki yang dihargai dan meraih
kebahagiaan sejati. Ayah yakin, di antara mereka itu pasti ada perempuan
impian.''
''Seperti apakah perempuan impian itu, Yah?'' Aku menyeruput es lemon
tea yang tinggal separoh. Kemudian mencomot sepotong pisang goreng keju.
Irfan menunggu dengan tidak sabar. ''Seperti apa, Yah?''
''Kalau kamu bertemu dengan seorang perempuan yang berpadu pada dirinya
kehangatan seorang Siti Khadijah, serta kemanjaan dan kecerdasan seorang Siti Aisyah dua di antara istri-istri Rasulullah itulah perempuan impian.''
''Seandainya aku menjumpai perempuan yang seperti itu, apa yang harus aku lakukan?'' ''Jangan tunggu esok atau lusa. Telepon Ayah saat itu juga. Ayah akan segera melamarkannya untukmu, dan kau harus menikah dengannya paling lambat seminggu setelah itu. Jika kamu mendapatkan perempuan seperti itu dalam hidupmu, dunia ini kecil dan nyaris tak berarti. Rasul pernah berkata, bahwa seorang perempuan yang
salehah lebih berharga dari dunia ini beserta isinya.''
Seminggu kemudian. Aku tengah menulis sebuah ficer tentang pengoperasian
bus way di Jakarta ketika HP-ku berdering. Dari Irfan: ''Ayah, aku sudah dapatkan calon istri. Seorang wanita salehah yang bisa membuatku hidup bahagia.'' Suaranya terdengar bersemangat. ''Oh, ya, siapa namanya?'' ''Nantilah Ayah akan aku kenalkan.'' Berselang lima menit kemudian, Yanti, staf humas bank syariah menelepon. ''Assalaamu'alaikum, Pak Irwan. Tadi Irfan buka rekening di bank syariah. Dia mengobrol cukup lama dengan salah seorang customer service officer kami. Bapak pasti tahu yang saya maksudkan.'' Aku menutup Nokia 9210i itu. Lalu memandang
ke luar jendela kantor. ''Alhamdulillah. Akhirnya kau temukan perempuan
impianmu, Nak.''
Sumber Uknown
Jika memilih untuk mencintai, bersiaplah untuk kehilangan, bersiaplah untuk tersakiti.
Cinta KuPu2
Di sebuah kota kecil yang tenang & indah, ada sepasang pria & wanita
yang saling mencintai. Mereka selalu bersama memandang matahari terbit
di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantar matahari senja.
Setiap orang yang bertemu dengan mereka tdk bisa tidak akan menghantar
dengan pandangan kagum & doa bahagia. Mereka saling mengasihi satu sama lain
Namun pd suatu hari, malang sang lelaki mengalami luka berat akibat sebuah
kecelakaan. Ia berbaring di atas ranjang pasien beberapa malam tdk sadarkan
diri di rumah sakit. Siang hari sang wanita menjaga di depan ranjang & dgn
tiada henti memanggil2 kekasih yg tdk sadar sedikitpun.
Malamnya ia berdoa kepada Tuhan agar kekasihnya selamat. Air matanya sendiri hampir kering krn menangis
sepanjang hari.Seminggu telah berlalu, sang lelaki tetap pingsan tertidur spt dulu,sedangkan si wanita telah berubah menjadi pucat pasi & lesu tdk terkira,
namun ia tetap dgn susah payah bertahan & akhirnya
pd suatu hari Tuhan terharu oleh keadaan wanita yg setia & teguh itu,
lalu Ia memutuskan memberikan kpd wanita itu sebuah pengecualian kpd
dirinya. Tuhan bertanya kpdnya "Apakah kamu benar2 bersedia menggunakan nyawamu sendiri utk menukarnya?" . Si wanita tanpa ragu sedikitpun menjawab "Ya".
Tuhan berkata "Baiklah, Aku bisa segera membuat kekasihmu sembuh kembali,
namun kamu hrs berjanji menjelma menjadi kupu2 selama 3 thn. Pertukaran spt
ini apakah kamu juga bersedia?". Siwanita terharu setelah mendengarnya &
dgn jawaban yg pasti menjawab "saya bersedia!".
Hari telah terang. Si wanita telah mjd seekor kupu2 yg indah. Ia mohon diri
pd Tuhan lalu segera kembali ke rumah sakit. Hasilnya, lelaki itu benar2
telah siuman bahkan ia sedang berbicara dgn seorg dokter.
Namun sayang, ia tdk dpt mendengarnya sebab ia tak bisa masuk ke ruang itu.
Dgn di sekati oleh kaca, ia hanya bisa memandang dr jauh kekasihnya sendiri
Bbrp hari kemudian, sang lelaki telah sembuh. Namun ia sama sekali tdk bahagia.
Ia mencari keberadaan sang wanita pd setiap org yg lewat, namun tdk ada yg
tahu sebenarnya sang wanita telah pergi kemana. Sang lelaki sepanjang hari tdk makan & istirahat terus mencari. Ia begitu
rindu kpdnya, begitu inginnya bertemu dgn sang kekasih, namun sang wanita yg telah berubah mjd kupu2 bukankah setiap saat selalu berputar di sampingnya ? hanya saja ia tdk bisa berteriak, tdk bisa memeluk. Ia hanya bisa memandangnya secara diam2. Musim panas telah berakhir, angin musim gugur yg sejuk meniup jatuh daun pepohonan. Kupu2 mau tdk mau hrs meninggalkan tempat tsb lalu terakhir kali ia terbang & hinggap di atas bahu sang lelaki.
Ia bermaksud menggunakan sayapnya yg kecil halus membelai wajahnya,
menggunakan mulutnya yg kecil lembut mencium keningnya. Namun tubuhnya yg kecil & lemah benar2 tdk boleh di ketahui olehnya, sebuah gelombang suara tangisan yg sedih hanya dpt di dengar oleh kupu2 itu sendiri & mau tdk mau dgn berat hati ia meninggalkan kekasihnya, terbang ke arah yg jauh dgn membawa harapan.
Dlm sekejap telah tiba musim semi yg kedua, sang kupu2 dgn tdk sabarnya segera terbang kembali mencari kekasihnya yg lama di tinggalkannya.Namun di samping bayangan yg tak asing lagi ternyata telah berdiri seorg wanita cantik. Dlm sekilas itu sang kupu2 nyaris jatuh dr angkasa.Ia benar2 tdk percaya dgn pemandangan di depan matanya sendiri.
Lebih tdk percaya lagi dgn omongan yg di bicarakan banyak org. Orang2 selalu
menceritakan ketika betapa parah sakit sang lelaki. Melukiskan betapa baik dan manisnya dokter wanita itu.
Bahkan melukiskan betapa sudah sewajarnya percintaan mereka & tentu saja juga melukiskan bahwa sang lelaki sudah bahagia spt dulu kala .Sang kupu2 sangat sedih. Bbrp hari berikutnya ia seringkali melihat kekasihnya sendiri membawa wanita itu ke gunung memandang matahari terbit,menghantar matahari senja di pesisir pantai.
Segala yg pernah di milikinya dahulu dlm sekejap tokoh utamanya telah berganti seorg wanita lain sedangkan ia sendiri selain kadangkala bisa hinggap di atas bahunya, namun tdk dpt berbuat apa2.
Musim panas tahun ini sgt panjang, sang kupu2 setiap hari terbang rendah
dgn tersiksa & ia sudah tdk memiliki keberanian lagi utk mendekati
kekasihnya sendiri. Bisikan suara antara ia dgn wanita itu,ia & suara tawa
bahagianya sudah cukup membuat hembusan napas dirinya berakhir,karenanya sebelum musim panas berakhir, sang kupu2 telah terbang berlalu.Bunga bersemi & layu. Bunga layu & bersemi lagi. Bagi seekor kupu2 waktu seolah2
hanya menandakan semua ini.
Musim panas pd tahun ketiga, sang kupu2 sudah tdk sering lagi pergi mengunjungi kekasihnya sendiri. Sang lelaki bekas kekasihnya itu mendekap perlahan bahu si wanita, mencium lembut wajah wanitanya sendiri.
Sama sekali tdk punya waktu memperhatikan seekor kupu2 yg hancur hatinya apalagi mengingat masa lalu.
Tiga tahun perjanjian Tuhan dgn sang kupu2 sudah akan segera berakhir & pd saat hari yg terakhir, kekasih si kupu2
melaksanakan pernikahan dgn wanita itu. Tempat pernikahan telah dipenuhi org2. Sang kupu2 secara diam2
masuk ke dalam & hinggap perlahan di atas pundak Tuhan. Ia mendengarkan sang kekasih yg berada dibawah berikrar di hadapan Tuhan dgn mengatakan "saya bersedia menikah dengannya!".
Ia memandangi sang kekasih memakaikan cincin ke tangan wanita itu, kemudian memandangi mereka berciuman dgn
mesranya lalu mengalirlah air mata sedih sang kupu2.
Tuhan berkata "Apakah kamu menyesal?".Sang kupu2 mengeringkan air matanya "Tidak".
Tuhan lalu berkata di sertai seberkas kegembiraan "Besok kamu sudah dpt kembali mjd dirimu sendiri".
Sang kupu2 menggeleng-gelengka n kepalanya "Biarkanlah aku menjadi kupu2 seumur hidup".
ADA BEBERAPA KEHILANGAN MERUPAKAN TAKDIR.
ADA BEBERAPA PERTEMUAN ADALAH YANG TIDAK AKAN BERAKHIR SELAMANYA.
MENCINTAI SESEORANG TIDAK MESTI HARUS MEMILIKI,NAMUN MEMILIKI SESEORANG
MAKA HARUS BAIK-BAIK MENCINTAINYA. .
yang saling mencintai. Mereka selalu bersama memandang matahari terbit
di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantar matahari senja.
Setiap orang yang bertemu dengan mereka tdk bisa tidak akan menghantar
dengan pandangan kagum & doa bahagia. Mereka saling mengasihi satu sama lain
Namun pd suatu hari, malang sang lelaki mengalami luka berat akibat sebuah
kecelakaan. Ia berbaring di atas ranjang pasien beberapa malam tdk sadarkan
diri di rumah sakit. Siang hari sang wanita menjaga di depan ranjang & dgn
tiada henti memanggil2 kekasih yg tdk sadar sedikitpun.
Malamnya ia berdoa kepada Tuhan agar kekasihnya selamat. Air matanya sendiri hampir kering krn menangis
sepanjang hari.Seminggu telah berlalu, sang lelaki tetap pingsan tertidur spt dulu,sedangkan si wanita telah berubah menjadi pucat pasi & lesu tdk terkira,
namun ia tetap dgn susah payah bertahan & akhirnya
pd suatu hari Tuhan terharu oleh keadaan wanita yg setia & teguh itu,
lalu Ia memutuskan memberikan kpd wanita itu sebuah pengecualian kpd
dirinya. Tuhan bertanya kpdnya "Apakah kamu benar2 bersedia menggunakan nyawamu sendiri utk menukarnya?" . Si wanita tanpa ragu sedikitpun menjawab "Ya".
Tuhan berkata "Baiklah, Aku bisa segera membuat kekasihmu sembuh kembali,
namun kamu hrs berjanji menjelma menjadi kupu2 selama 3 thn. Pertukaran spt
ini apakah kamu juga bersedia?". Siwanita terharu setelah mendengarnya &
dgn jawaban yg pasti menjawab "saya bersedia!".
Hari telah terang. Si wanita telah mjd seekor kupu2 yg indah. Ia mohon diri
pd Tuhan lalu segera kembali ke rumah sakit. Hasilnya, lelaki itu benar2
telah siuman bahkan ia sedang berbicara dgn seorg dokter.
Namun sayang, ia tdk dpt mendengarnya sebab ia tak bisa masuk ke ruang itu.
Dgn di sekati oleh kaca, ia hanya bisa memandang dr jauh kekasihnya sendiri
Bbrp hari kemudian, sang lelaki telah sembuh. Namun ia sama sekali tdk bahagia.
Ia mencari keberadaan sang wanita pd setiap org yg lewat, namun tdk ada yg
tahu sebenarnya sang wanita telah pergi kemana. Sang lelaki sepanjang hari tdk makan & istirahat terus mencari. Ia begitu
rindu kpdnya, begitu inginnya bertemu dgn sang kekasih, namun sang wanita yg telah berubah mjd kupu2 bukankah setiap saat selalu berputar di sampingnya ? hanya saja ia tdk bisa berteriak, tdk bisa memeluk. Ia hanya bisa memandangnya secara diam2. Musim panas telah berakhir, angin musim gugur yg sejuk meniup jatuh daun pepohonan. Kupu2 mau tdk mau hrs meninggalkan tempat tsb lalu terakhir kali ia terbang & hinggap di atas bahu sang lelaki.
Ia bermaksud menggunakan sayapnya yg kecil halus membelai wajahnya,
menggunakan mulutnya yg kecil lembut mencium keningnya. Namun tubuhnya yg kecil & lemah benar2 tdk boleh di ketahui olehnya, sebuah gelombang suara tangisan yg sedih hanya dpt di dengar oleh kupu2 itu sendiri & mau tdk mau dgn berat hati ia meninggalkan kekasihnya, terbang ke arah yg jauh dgn membawa harapan.
Dlm sekejap telah tiba musim semi yg kedua, sang kupu2 dgn tdk sabarnya segera terbang kembali mencari kekasihnya yg lama di tinggalkannya.Namun di samping bayangan yg tak asing lagi ternyata telah berdiri seorg wanita cantik. Dlm sekilas itu sang kupu2 nyaris jatuh dr angkasa.Ia benar2 tdk percaya dgn pemandangan di depan matanya sendiri.
Lebih tdk percaya lagi dgn omongan yg di bicarakan banyak org. Orang2 selalu
menceritakan ketika betapa parah sakit sang lelaki. Melukiskan betapa baik dan manisnya dokter wanita itu.
Bahkan melukiskan betapa sudah sewajarnya percintaan mereka & tentu saja juga melukiskan bahwa sang lelaki sudah bahagia spt dulu kala .Sang kupu2 sangat sedih. Bbrp hari berikutnya ia seringkali melihat kekasihnya sendiri membawa wanita itu ke gunung memandang matahari terbit,menghantar matahari senja di pesisir pantai.
Segala yg pernah di milikinya dahulu dlm sekejap tokoh utamanya telah berganti seorg wanita lain sedangkan ia sendiri selain kadangkala bisa hinggap di atas bahunya, namun tdk dpt berbuat apa2.
Musim panas tahun ini sgt panjang, sang kupu2 setiap hari terbang rendah
dgn tersiksa & ia sudah tdk memiliki keberanian lagi utk mendekati
kekasihnya sendiri. Bisikan suara antara ia dgn wanita itu,ia & suara tawa
bahagianya sudah cukup membuat hembusan napas dirinya berakhir,karenanya sebelum musim panas berakhir, sang kupu2 telah terbang berlalu.Bunga bersemi & layu. Bunga layu & bersemi lagi. Bagi seekor kupu2 waktu seolah2
hanya menandakan semua ini.
Musim panas pd tahun ketiga, sang kupu2 sudah tdk sering lagi pergi mengunjungi kekasihnya sendiri. Sang lelaki bekas kekasihnya itu mendekap perlahan bahu si wanita, mencium lembut wajah wanitanya sendiri.
Sama sekali tdk punya waktu memperhatikan seekor kupu2 yg hancur hatinya apalagi mengingat masa lalu.
Tiga tahun perjanjian Tuhan dgn sang kupu2 sudah akan segera berakhir & pd saat hari yg terakhir, kekasih si kupu2
melaksanakan pernikahan dgn wanita itu. Tempat pernikahan telah dipenuhi org2. Sang kupu2 secara diam2
masuk ke dalam & hinggap perlahan di atas pundak Tuhan. Ia mendengarkan sang kekasih yg berada dibawah berikrar di hadapan Tuhan dgn mengatakan "saya bersedia menikah dengannya!".
Ia memandangi sang kekasih memakaikan cincin ke tangan wanita itu, kemudian memandangi mereka berciuman dgn
mesranya lalu mengalirlah air mata sedih sang kupu2.
Tuhan berkata "Apakah kamu menyesal?".Sang kupu2 mengeringkan air matanya "Tidak".
Tuhan lalu berkata di sertai seberkas kegembiraan "Besok kamu sudah dpt kembali mjd dirimu sendiri".
Sang kupu2 menggeleng-gelengka n kepalanya "Biarkanlah aku menjadi kupu2 seumur hidup".
ADA BEBERAPA KEHILANGAN MERUPAKAN TAKDIR.
ADA BEBERAPA PERTEMUAN ADALAH YANG TIDAK AKAN BERAKHIR SELAMANYA.
MENCINTAI SESEORANG TIDAK MESTI HARUS MEMILIKI,NAMUN MEMILIKI SESEORANG
MAKA HARUS BAIK-BAIK MENCINTAINYA. .
Selasa, 25 Desember 2012
Me
Dari pertemuan aku belajar arti
kerinduan..
.
Dari perkenalan aku belajar arti
persahabatan..
.
Dari kebersamaan aku belajar arti
kesetiaan..
.
Dari rasa sayang aku belajar cara
perhatian..
.
Dari rasa cinta aku belajar arti
kebahagiaan..
.
Dari rasa benci aku belajar arti
memaafkan..
.
Dari rasa kecewa aku belajar arti
penyesalan..
.
Dan dari luka aku belajar arti
senyuman..
.
Semua itu indah setelah menjadi
kenangan..
Dan aku tak tau cara untuk
melupakan..
Langganan:
Postingan (Atom)